Namaku Abdulrahman Dude, teman sepermainanku sering memanggilku “Aan” aku adalah bocah berusia 10 Tahun, sekarang aku duduk dikelas 3 SD MI Al-Muhaimin Tolangohula. Aku adalah anak yang kurang beruntung, diriku penuh dengan ketidaksempurnaan,. Keluargaku tak sempurna bahkan diriku juga tak sesempurna teman-temanku yang lainnya. Terkadang ketidaksempurnaan yang aku miliki saat ini terasa begitu berat untuk dijalani, hidupku yang serba pas-pasan, tak punya ayah, ibupun dalam kesakitannya.

Ya, Ibuku adalah sosok seorang yang sangat aku hormati dan aku cintai, meskipun ibu memiliki keterbatasan mental, namun dia tetaplah ibuku. Peraduaan ayahku entah saat ini dimana, sejak kecil aku tak pernah melihat dan merasakan sosoknya. Sosok yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga tak pernah terasa,. Dan pada akhirnya sosoknyapun digantikan oleh wanita paruh baya, yang berdirinya tak tegak lagi, wanita yang berjalanpun membungkuk seperti rakyat jelata yang meminta untuk dikasihani, dia adalah nenekku. Suar lelahnyalah yang menjadi pelipur nafkah untuk kami. Dia yang membantu menyekolahkanku dan membantu membiyayai pengobatan ibuku.

Aku seperti halnya anak seusiaku, bermain bersama teman-teman sebayaku, bersenda gurau dengan mereka meski sesedikit ada sebagian sahabatku sering meledekku dengan sebutan ‘Te Pe’o”. Terkadang aku merasa tak menerima ledekan mereka terhadapku, aku merasa terhina dengang perkataan mereka.

Tapi apalah dayaku. Kondisi cacat fisikku yang menyebabkan mereka memanggilku sepeti itu. Ingin rasanya aku memberontak, mengamuk bahkan kuingin sekali membalas teman-teman yang meledekku, tapi apalah dayaku, untuk mengembalikan perkataan mereka terhadapkupun aku seperti tak mampu. Lari menghadang bahkan menonjok merekapun kondisi ini tak bisa.

Ya, aku dengan kondisi tangan kanan dan kakiku yang cacat tak mampu membalas mereka. Jangankan membalas untuk berjalan kesekolah terkadang aku harus jatuh berulang-ulang kali. Tetapi aku sekarang bersyukur, aku mendapatkan bantuan dari program generasi sehat cerdas. Program ini telah benyak membantuku, aku mendapatkan seragam sekolah, sepatu, tas dan buku yang bagus serta layak untukku, bahkan sekarangpun aku telah dipermudah oleh Program Generasi, aku diberikan uang transport kesekolah sehingga aku tak perlu lagi untuk jatuh berulang-ulang hingga sampai kesekolah.

Bantuan itu menjadikan penyemangat untukku menggapai cita-citaku untuk bisa setara dengan teman-temanku yang sempurna fisik dan keluarganya. Aku selalu berusaha untuk menjadi orang nomor satu dikelas tempatku menimba ilmu, aku tidak menginginkan mereka menghinaku lagi. Aku merasa aku hebat dalam berhitung dan membaca, ini adalah satu kelebihan dari ketidaksempurnaanku. Panggilan “Te Pe’o” aku abaikan. Aku tunjukkan kehebatanku dihadapan teman-teman kelasku.

Ketidaksempurnaanku tak menjadi halanganan untukku mengapai citaku, cita untuk mengenyam pendidikan tinggiku. Ya, saat ini aku memang belum dewasa, namun citaku untuk menerjang badai dan memluk gunung sangatlah besar. Melihat ibuku yang meski tak sempurna dengan tulusnya mendidikku, nenekku dengan segala kekuatannya berusaha untuk menafkahi aku dan ibuku adalah sebuah penyemangat besar untukku meninggikan derajat keluargaku.

Terima kasihku untukkmu Program Generasi Sehat dan Cerdas, Karena program ini, aku dan keluargaku terbantu. Akan kugapai citaku untuk menerjang badai, memeluk gunung, menggapai bintang bahkan melintasi lapisan langit hingga langit ketujuh,. Ingin rasanya aku berjalan diatas lekukan pelangi yang tampak indah dipandang mata, teratur lapisan dan lekukan warnanya. Akan kutunjukkan pada duniaku dan dunia kalian bahwa ketidaksempurnaanku akan menjadi satu kelebihan untukku dan keluargaku.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY