Pepatah ini cocok untuk menggambarkan Kegigihan Samsul Usman, seorang Te’Lola. Te’Lola biasanya dijadikan sebutan bagi anak laki-laki yang mengalami cacat fisik atau penyandang disabilitas.  Warga Desa Talumopatu, Dusun Tungo berusia 14 tahun itu mengalami kecelakaan. Kondisi Fisik yang tidak lagi sempurna setelah kecelakaan itu. Harapan yang mulai hilang kini bangkit kembali dengan motivasi dan bantuan dari Generasi Sehat dan Cerdas.

Teriknya Sinar Mentari siang itu terasa sangat menyangat dan membakar kulit,namun kondisi ini tak membuat semangat tim Generasi sehat cerdas untuk  Tetap berangkat. yah…siang itu kami menuju Dusun Tungo Desa Talumopatu.untuk memastikan Kondisi seorang anak yang putus sekolah setelah mengalami kecelakaan,akhirnya kami sampai juga kerumah anak itu.”Ini depe rumah” ujar Mastin Bagu Bendahara PK desa Talumopatu. Setelah memperhatikan kondisi rumah, Kami pun akhirnya mencoba untuk mendekati rumah tersebut.

Di rumah itu tampak seorang anak dengan menggunakan tongkat yang sedang duduk dengan lemah “Silahkan masuk, Pak.. Bu..!!” ujar Seorang anak lelaki itu sembari mencoba berdiri dengan tongkatnya yang terbuat dari Kayu. Kami pun langsung masuk ke dalam  rumah dan kembali memperhatikan keadaan dalam rumah. Kami mengawali obralan dengan menayakan kabar anak lelaki yang menggunakan tongkat tadi,ibunyapun dengan sedih menceritakan kepada kami awal musibah kecelakaan yang di alami putranya “Torang kase pulang paksa ini anak ibu soalnya tidak ada biaya kalau lama-lama di rumah sakit”.  Anak itu pun terlihat sedih karena semenjak kecelakaan itu anak ini tidak lagi sekolah “Sudah 4 bulan saya berhenti sekolah bu” ujar anak itu dengan sedih.

Memang jarak rumah Te’Lola dengan sekolah cukup jauh,biasaya Te’Lolan berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya 3 KM dari rumah ke sekolah,sebenarnya ini tidak menjadi masalah buat  Te’Lola. Namun semenjak kecelakaan itu Te’Lola tidak bisa lagi berjalan jauh karena harus menggunakan tongkat “Kalau so lama-lama ba jalan dengan tongkat ini dapa rasa sakit Ibu”ujarnya. Lagi, kami pun bertanya apakah Te Lola masih ingin sekolah “Suka sekali ibu tapi saya so tidak bisa ba jalan jauh dan saya juga tidak tau apakah pihak sekolah masih menerima atau tidak karena sudah 4 bulan saya tidak sekolah” ujar Te Lola yang semenjak kecil juga sudah tidak memiliki ayah  itu sembari menahan tangisnya. Setelah mendengar semua cerita dari Ibu dan Te Lola akhirnya kami berembuk dan kami sepakat untuk membicarakan ini dengan TPMD dan pemerintah desa.

Mengingat bahwa diKecamatan Mootilango merupakan salah satu kecamatan yang dipercaya oleh pemerintah menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Program Generasi sehat Cerdas yang salah satu kegiatannya juga tak lepas dari memperhatikan keberlangsungan pelaksanaan pendidikan, maka  dengan melihat permasalahan tersebut tentunya mengundang rasa prihatin dari berbagai pihak termasuk pelaku pemberdayaan.

Akhir lewat rapat TPMD Khusus mendapatkan kesepakatan untuk merevisi kegiatan yang di anggap belum terlalu penting untuk memberikan biaya transportasi kepada Te Lola. Kami pun langsung berangkat ke sekolah TeLola untuk memastikan apakah masih bisa diterima di sekolah mengingat sudah 4 Bulan tidak sekolah lagi. Pihak sekolahpun menyetujui dan mempersilahkan Te Lola untuk kembali bersekolah.setelah mendengar kabar bahwa Te Lola bisa sekolah lagi senyum bahagia dari anak ini pun terlihat dengan jelas.

Demikian cerita singkat perjuangan kehidupan Te’Lola. Ini hanyalah salah satu cerita kehidupan masyarakat, dari sekelumit cerita perjuangan masyarakat masa (jaman) sekarang yang membutuhkan perhatian kita semua. Jaman yang oleh banyak orang digambarkan sebagai jaman perubahan, jaman kebebasan, dan jaman dimana masyarakat selalu dijadikan obyek oleh oknum tertentu (pemilik kepentingan) untuk memenuhi kepentingannya dengan cara memberikan janji-janji kesejahteraan yang pada akhirnya hanya indah untuk didengar, tetapi sulit untuk direalisasikan.

Kita tidak tahu, ketika kita mau membuka mata, telinga,pikiran dan hati kita, berapa banyak Te’Lolan Te’Lolan  diluar sana yang kita temui yang membutuhkan uluran tangan kita.

Oleh: Isnawati

FK Mootilango Gorontalo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY