Demikian kutipan wawancara Bupati Pohuwato, Provinsi Gorontalo Syarif Mbuinga SE MM dengan Spesialis Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Generasi Sehat dan Cerdas Faiz Yajri. Berikut petikan wawancara lengkap dengan Syarif di tengah kesibukannya padat.

Bagaimana kondisi terkini terkait akses pelayanan pendidikan dan kesehatan di Kabupaten yang Bapak pimpin?

Kondisi terkini layanan pendidikan dan kesehatan tergambar pada capaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Pohuwato. Pada tahun 2015 sebesar 62,50 persen. Tahun 2016 naik menjadi menjadi 63,17 persen. Angka itu tumbuh sebesar 1,07 persen. Pertumbuhan ini tertinggi dibanding kabupaten/kota lain di wilayah Provinsi Gorontalo.

Bagaimana Bapak memandang terhadap isu pendidikan dan kesehatan?

Pemerintah Kabupaten Pohuwato memandang isu pendidikan dan kesehatan merupakan isu yang sangat strategis. Dalam lingkup suatu daerah otonom, ukuran keberhasilan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di pemerintahan itu seberapa besar pemerintah mendorong pentingnya akselerasi pendidikan dan kesehatan untuk bisa menjawab permasalahan di tingkat masyarakat.

Isu kesehatan dan pendidikan menjadi isu penting dan strategis di Pohuwato. Mengapa? Saya ingin menyampaikan bahwa sebelum Pohuwato menjadi sebuah daerah otonom baru dulunya masih bergabung dengan Kabupaten Gorontalo Provinsi Sulawesi Utara. Setelah terbentuk Kabupaten Boalemo, Pohuwato bergabung dengan Boalemo. Baru pada 2003, berdiri menjadi Kabupaten Pohuwato. Permasalahan pendidikan dan kesehatan menjadi suatu permasalahan yang luar biasa, mengingat sulitnya masyarakat mengakses dan pemenuhan kebutuhan pendidikan. Masih ditemui besarnya masalah kesehatan dari sisi Sumber Daya Manusia, infrastruktur, serta isu-isu terkait kesehatan dan pendidikan akibat tidak tertangani secara komprehensif.

Terkait hal tersebut dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2016-2021 Kabupaten Pohuwato, isu ini masuk dalam misi pertama dengan nomenklatur mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam implementasinya, masuk dalam 2 program unggulan prioritas RPJMD yakni program pendidikan mudah dan berkualitas serta tidak ketinggalan program  kesehatan dan kesehatan keluarga.

Adakah target yang hendak dicapai dalam upaya pemenuhan pelayanan pendidikan dan kesehatan?

Target untuk pendidikan APM (Angka Partisipasi Murni) Sekolah Dasar sederajat hingga 2021 sebesar 97,25 persen.  Realisasi tahun 2016 sebesar  97,51. Jumlah itu telah melampaui target RPJMD. Untuk APM SMP (Sekolah Menengah Pertama) sederajat hingga 2021 sebesar 80,71 persen. Realisasi  tahun 2016 sebesar 82,13 pun telah melampaui RPJMD.

Target kesehatan, angka kematian bayi hingga 2021 lebih kecil dari 5%. Realisasi tahun 2016 sebesar 3,5 persen sesuai target RPJMD. Angka Kematian Ibu hingga 2021 lebih kecil dari 200 persen. Realisasi tahun 2016 163 persen. Kondisi ini pun sesuai target RPJMD.

Terkait pencapaian target tersebut kami mempuyai visi masyarakat dapat memproleh akses yang mudah terkait layanan kesehatan dan pendidikan. Kita coba segmentasikan mana yang mampu dan tidak mampu. Yang tidak mampu ini yang kemudian kita berikan keadilan. Kita gratiskan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Termasuk upaya pemenuhan anggaran anggaran pendidikan 20%.

Kami pun mencoba melakukan inovasi untuk menggratiskan pendidikan hingga level SMA. Kami tidak berhenti sampai di situ. Untuk tingakt pendidikan tinggi bagi mereka yang tidak mampu namun mempunyai kemampuan dan kemauan yang mumpuni kami pun sediakan kita beasiswa. Beasiswa ini ada 2 macam yaitu  beasiswa akhir studi dan serta beasiswa yang menaggung semua biaya pendidikan. Program ini sudah berlangsung selama 3 tahun. Kami pun menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Brawijaya Malang, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Trisula Jakarta serta perguruan tinggi lainnya.

Dalam upaya pencapaian tersebut, menurut Bapak, kendala-kendala apa saja yang menghambat upaya pencapaian target?

Tentu saja kami menjumpai kendala terutama dalam hal mempertahankan capaian yang telah diraih.

Sebut saja untuk isu Pendidikan. Belum optimalnya kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Solusi untuk ini ke depan akan ada upaya pemaksanaan melalui persyaratan penerimaan bantuan. Mereka boleh menerima bantuan asal anaknya yang wajib sekolah  harus disekolahkan. Sementara dalam bidang kesehatan, tenaga kesehatan yang tidak stabil  sehingga mempengaruhi pelayanan di Puskesmas. Oleh sebab itu solusi untuk ini, saya menelorkan kebijakan Satu Dokter Satu Kecamatan. Disamping juga terus mensosialisasikan tentang pentingnya berobat dan persalinan yang didampingi bidan dan dukun.

Berikutnya terkait masih kurangnya sumber daya kesehatan. Hal ini tentu saja menjadi tantangan dalam upaya menghadirkan upaya satu dokter satu kecamatan. Upaya kami memberikan beasiswa bagi putra daerah berprestasi untuk menempuh program kedokteran yang mulai berjalan sejak 2016. Harapannya, ke depan, di setiap kecamatan ada 2 orang putra daerah yang bisa memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat.

Kegiatan Generasi Sehat dan Cerdas sebagai upaya peningkatan dan percepatan akses layanan pendidikan dan kesehatan telah berjalan di wilayah Bapak. Bagaimana komentar Bapak terkait kegiatan Generasi Sehat dan Cerdas dalam upaya pencapaian target dalam bidang pendidikan dan kesehatan di wilayah Bapak?

Terkait implementasi Generasi Sehat dan Cerdas, pada akhir tahun 2016 setelah kami mengevaluasi data kemiskinan dari TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), maka saya mengeluarkan surat edaran ke seluruh desa di Kabupaten Pohuwato untuk menganggarkan melalui APBDes dimana untuk ekonomi kerakyatan 10 persen, kesehatan 7 persen, pendidikan 5 persen dan lingkungan 3 persen dari total APBDes.

Kehadiran Generasi Sehat dan Cerdas sangat membantu Kabupaten Pohuwato. Saya bisa hadirkan otentifikasi progam. Sejak GSC hadir dan bersinergi dengan program pemerintah daerah, dirasakan sangat membantu. Bisa dilihat dari angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang naik signifikan. Pada 2016, angka IPM 63,17%. Jumlah itu tumbuh 1,07% dibanding tahun sebelumya dan pertumbuhan ini merupakan tertinggi di banding Kabupaten/Kota lain di Provinsi Gorontalo. Angka IPM dilihat dari dua isu utama yakni kesehatan dan pendidikan yang selama ini diusung oleh GSC. Kehadiran GSC sangat membantu pemerintah.

Adakah dukungan yang diberikan pemerintah daerah dalam upaya menunjang kegiatan Generasi Sehat dan Cerdas yang sedang berjalan?

Dukungan untuk GSC sangat banyak karena ini memang menyangkut layanan dasar yang harus dibenuhi baik melalui OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan juga arahan pada Pemerintah Desa. Bahkan untuk  peningkatan kualitas hidup orang miskin, kami membuat inovasi pembangunan rumah sehat komunal, setiap kecamatan seluruh rumah sehat dikumpulkan, fasilitas air, listrik, kesehatan, dan jalan. Semuanya pemerintah yang sediakan.

Adakah Rencana Aksi Daerah (RAD) terkait dengan pelayanan sosial dasar termasuk mengenai pendidikan dan kesehatan?

Rencana aksi terkait pendidikan, kami telah menyusun road map (peta jalan) pemenuhan Standar Pelayanan Minimal pendidikan dasar, dimana di dalamnya seluruh  standar yang dipersyarakatan harus dipenuhi oleh pemerintah daerah. Sedangkan untuk isu kesehatan juga telah ada Standar Pelayanan Minimal untuk kesehatan, baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY