Acara yang dibuka oleh Bupati OKI, Iskandar SE, itu turut pula hadir Ir Armen Said MSi, Kepala Subdit Pelayanan Dasar Direktorat Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Dr Minarto Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKBGM) MCAI, Suharno Team Leader Konsultan Manajemen Nasional (KMN) GSC,  Entos Zainal, Kepala Sub Direktorat Gizi dan Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Scott Torres Senior Program Officer IMA World Health, serta  dr Hj Uke Veronika mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan serta seluruh jajaran Muspida Kabupaten OKI. Tema acara mengenai upaya pencegahan stanting (tumbuh pendek).

Diskusi terkait stanting
Diskusi terkait stanting

Dalam sambutannya Bupati OKI, Iskandar SE,  berpesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan di OKI dalam mencapai generasi sehat dan cerdas. Dalam kaitan Iskandar menuturkan stanting bukanlah keturunan. “Berdasarkan pengalaman pribadi, faktor nutrisi lebih penting,” ujar Iskandar yang mengaku bertubuh pendek itu. Ia menuturkan stanting merupakan masalah gizi kronis yang diakibatkan oleh asupan gizi kurang dalam waktu lama lantaran pemberian makanan yan tidak sesuai kebutuhan.

Pendapat Iskandar diamini Kepala Dinas Kesehatan OKI, Ir Muhammad Lubis, yang menyebutkan kekurangan gizi menyebabkan penderita mudah sakit, memiliki postur tubuh tidak maksimal saat dewasa serta kemampuan kognitif berkurang. Lubis menurutkan untuk memerangi stanting pihaknya menerapkan 4 hal pokok diantaranya pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sampai usai 6 bulan, pemantauan pertumbuhan balita serta meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi. Dalam kesempatan tersebut Lubis menuturkan saat ini prevalensi stanting di OKI berhasil di tekan pada angka 34%. “Sebelumnya prevalensi stanting di OKI berada di angka 40,5%” ungkapnya. Jumlah itu jauh di atas rata-rata prevalensi stanting nasional yang berada di kisaran 37,2%.

Dr Minarto sendiri dalam acara tersebut menuturkan stanting diderita oleh 9-juta anak Indonesia. Itu berarti satu dari tiga anak Indonesia menderita stanting. “Prevalensi stanting di Indonesia lebih tinggi di banding negara lain di Asia Tenggara,” ungkapnya. Myanmar berada pada kisaran 35%, Vietnam 23% dan Thailand 16%. Menurut Minarto pencegahan stanting  bisa diatasi selain asupan gizi cukup dan berkualitas juga bisa dilakukan dengan memperhatikan faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan. Hal tersebut berpengaruh pada kesehatan ibu hamil serta tumbung kembang anak. Mafhum saja anak di bawah usia 2 tahun rentan terhadap pelbagai infeksi dan penyakit.

Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan bisa turut pula memicu gangguan saluran pencernaan yang berakibat energi untuk pertumbuhan dialihkan guna membantu tubuh melawan infeksi. Akibatnya semakin sering anak menderita diare, cacingan, dan infeksi saluran pernafasan, semakin besar pula ancaman stanting mengintai.

Selepas acara pembukaan dilakukan pengukuhan 5 orang Duta Gizi OKI. Iskandar berharap duta-duta yang ditunjuk mampu menerapkan tugas dalam rangka mengkampanyekan gizi serta pencegahan stanting di masyarakat OKI. Setelah itu dilakukan penanda-tanganan Komitmen Bersama Mencegah Stanting di Kabupaten Komering Ilir. Dialog interaktif menjadi acara berikutnya dengan pemateri Dr Minarto, Suharno, Entos Zainal serta pembina PPK OKI Lindasari Iskandar. Dalam dialog tersebut Suharno menuturkan stanting masih menjadi isu krusial di sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia. “GSC berkomitmen untuk turut serta bersama Pemerintah Daerah OKI untuk mengurangi prevalensi stanting di OKI,” ujarnya. Kerjasama antar pihak menjadi senjata ampuh memerangi stanting di OKI.(fx/gsc)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY