Hanibal Hamidi, Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendesa PDTT, menyebutkan stanting merujuk pada kondisi tinggi balita lebih pendek dari tinggi badan seumurannya. “Terjadinya stanting bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ungkapnya. Stanting timbul lantaran kekurangan gizi dalam waktu yang lama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan. Yakni, sejak janin kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Besarnya kerugian yang ditanggung akibat stanting lantaran naiknya pengeluaran pemerintah terutama jaminan kesehatan nasional yang berhubungan dengan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes atapun gagal ginjal. Harap mafhum ketika dewasa, anak yang menderita stanting mudah mengalami kegemukan sehingga rentan terhadap serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke ataupun diabetes. Di sisi lain stanting juga bisa menghambat potensi transisi demografis Indonesia dimana rasio penduduk usia tidak bekerja terhadap penduduk usia kerja menurun. Itu menggenapi ancaman lainnya berupa pengurangan tingkat intelejensi sebesar 5—11 poin. Saat dewasa, anak yang terkena stanting pendapatannya 20% lebih rendah lantaran produkvitas mereka berkurang saat usia muda imbas pendidikan lebih rendah yang berujung pada pekerjaan dengan pemasukan lebih kecil.

Direktur PSD Hanibal Hamidi tekankan pentingnya ketersediaan dan keterjangkauan pangan berkualitas
Direktur PSD Hanibal Hamidi tekankan pentingnya ketersediaan dan keterjangkauan pangan berkualitas

Indonesia memang “bermasalah” dengan stanting. Hanibal, mengutip hasil riset Unicef, menyebutkan Indonesia berada pada peringkat 5 negara dengan jumlah stanting terbesar di dunia. Saat ini ada 9 juta anak Indonesia yang menderita stanting. “Artinya, 1 dari 3 anak Indonesia didera stanting,” ungkap Hanibal. Nukilan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan prevalensi stanting di Indonesia mencapai 37,2%. Angka itu beringsut naik dari Riset Kesehatan Dasar 2010 dimana prevalensi stanting berkisar 35,6%. “Stanting perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Hanibal.

Terkait hal tersebut, Hanibal menawarkan pendekatan lain dalam menekan angka stanting di Indonesia. Ia menyoroti pentingnya ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan berkualitas untuk menekan angka stanting di Indonesia. Hal tersebut menggenapi upaya lainnya seperti sanitasi, pemberian makanan kaya nutrisi bagi ibu hamil dan balita ataupun pengolahan bahan makanan yang tidak mengurangi kandungan gizi dari bahan pangan. “Ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan ini penting dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat terutama ibu hamil agar terhindar dari stanting,” imbuhnya. Terkait hal tersebut perlu didorong adanya regulasi yang mengatur hal tersebut.

Ketersedian bahan pangan berkualitas menjamin tersedianya bahan pangan kaya nutrisi bagi seluruh lapisan masyarakat. Kerapkali, bahan pangan berkualitas langka yang berakibat masyarakat sulit untuk memperolehnya. Disisi lain, ketersediaan itu perlu digenapi dengan upaya keterjangkauan dimana bahan pangan berkualitas tersedia dengan harga rasional dan mampu ditebus masyarakat. Mafhum saja kerap kali terjadi bahan pangan berkualitas tersedia namun tidak mampu dibeli oleh masyarakat, terutama rumah tangga miskin, lantaran harganya selangit.

Pemberian Makanan Tambahan di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat
Pemberian Makanan Tambahan di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat

Hanibal menuturkan dalam upaya menekan angka stanting di Indonesia, Kemendesa PDTT tidak begitu saja berpangku tangan. “Lewat Program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) kami hadir untuk menyiapkan generasi emas Indonesia mendatang,” ungkapnya. Saat ini Generasi Sehat dan Cerdas beroperasi di 11 Provinsi, 66 Kabupaten, 499 Kecamatan, dan 5.744 Desa di seantero Indonesia. Beragam pelatihan pun digelar untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam upaya penyediaan serta pemberian makanan berkualitas bagi ibu hamil serta balita lewat Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Seakan belum cukup, indikator keberhasilan Generasi Sehat dan Cerdas pun turut diimbuhi dengan parenting (pengasuhan) dan konseling yang berhubungan dengan pencegahan stanting.

Guna lebih memasifkan pencegahan stanting, bekerjasama dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI), dilakukan kampanye mengenai promosi pencegahan stanting di Indonesia pada 2015. “Saat ini sudah berjalan di 3 provinsi yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah,” tutur dokter lulusan Universitas Airlangga itu. Dengan serangkaian langkah yang diambil dan komitmen yang kuat, Kemendesa PDTT ingin memastikan generasi mendatang Indonesia tidak lagi dibuat pening oleh stanting.(fx/gsc)

Kontak: gsc.soskom@gmail.com

Visit our website: www.generasi.web.id

Visit us on twitter: @kmngenerasi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY