Riuh rendah suara bocah berseling dengan tawa memenuhi Posyandu Cendana 7 di Dusun Manglid, Desa Cidahu. Puluhan balita tampak menikmati suapan makanan tambahan yang disorongkan ibu mereka. Kondisi itulah yang terhidang saat rombongan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa PDTT Ahmad Erani Yustika dan Direktur Pelayanan Sosial Dasar Ditjen PPMD Hanibal Hamidi datang bertandang selepas menaiki jalan menanjak menuju lokasi.

Direktur PSD Hanibal Hamidi (kanan) tekankan ketersediaan dan keterjangkauan pangan berkualitas bagi warga dalam mengatasi masalah gizi
Direktur PSD Hanibal Hamidi (kanan) tekankan ketersediaan dan keterjangkauan pangan berkualitas bagi warga dalam mengatasi masalah gizi

Menurut Direktur Pelayanan Sosial Dasar Hanibal Hamidi dalam pemaparannya menuturkan PERGIZI merupakan salah strategi GSC Sukabumi dalam rangka penanggulangan balita gizi kurang dan gizi buruk berbasis pemberdayaan masyarakat. “Caranya, memadukan program peningkatan status gizi balita melalui pemberitaan makanan tambahan (PMT) dengan layanan pemeriksaan kesehatan, pengobatan, serta pemberiaan mikronutrisi,” ujar Hanibal. Itu masih diimbuhi dengan upaya edukasi penyuluhan serta pelibatan ibu balita gizi buruk dan gizi kurang serta masyarakat sejak proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi kegiatan.

Sasaran program PERGIZI sendiri menurut Hanibal, ditujukan pada semua anak balita dan ibu mereka yang menderita gizi buruk dan gizi kurang dalam rentang umur 6—54 bulan. Lama kegiatan PERGIZI selama 25 minggu dengan total kegiatan sebanyak 30 kali. Agar lebih mengena, sebelum pelaksanan program dilakukan pelatihan terlebih dulu kepada petugas kesehatan dan kader. Tidak hanya itu, selama kegiatan pun dilakukan pendampingan dan kunjungan ke rumah sasaran terutama sasaran yang tidak aktif.

Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Lokal di Pos Pergizi Cidahu Sukabumi
Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Lokal di Pos Pergizi Cidahu Sukabumi

Kegatan utama PERGIZI sendiri meliputi pengukuran antropometri balita berupa penimbangan berat bandan dan pengukuran panjang ataupun tinggi badan. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, pemberian PMT yang dimasak sendiri oleh kader serta makan bersama. Tidak lupa diberikan pula mikronutrisi, penyuluhan gizi dan kesehatan serta stimulasi perkembangan dengan jalan bermain dan bernyanyi.

Hanibal pun tak lupa menyoroti pentingnya pemeriksaan ibu hamil dalam kaitan dengan pemberantasan angka stanting alias tinggi badan kurang di Indonesia. “Dengan pemeriksaan sejak awal kehamilan, ibu hamil bisa mendapatkan asupan nutrisi yang cukup guna menurunkan angka stanting,” ujarnya. Saat ini angka stanting di Indonesia bertengger pada kisaran 37,2%.

Harap mafhum, tingginya angka stanting salah satunya dipicu oleh kurangnya asupan nutrisi selama masa kehamilan. Tidak heran bila pemeriksaan ibu hamil pun turut pula menjadi garapan Posyandu Cendana 7 lantaran tempat tersebut juga difungsikan sebagai rumah singgah bagi ibu hendak melahirkan serta Balai Pengobatan. Oleh karena itu Hanibal menekankan pentingnya ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan berkualitas pada seluruh lapisan terutama yang berada di kawasan perdesaan.

Di sisi lain pemeriksaan ibu hamil penting dalam rangka menurunkan angka kematian ibu hamil yang masih tinggi di Indonesia. Saat ini masih ada 3.000 ibu hamil meregang nyawa per 100.000 kehamilan. Angka tersebut masih tergolong tinggi dibanding negeri jiran Malaysia yang berada pada kisaran 30 ibu meninggal per 100.000 kehamilan.

Dirjen PPMD Ahmad Erani Yustika mengacungi jempol terhadap kegiatan yang dilakukan di Posyandu Cendana 7 tersebut. “Dengan tersedianya makanan sehat setiap hari yang disediakan di Pos PERGIZI, maka pertumbuhan generasi kita di masa mendatang bisa optimal,” ujarnya. Erani pun turut mengapresiasi pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan di Posyandu. Acungan jempol serupa terhadap PERGIZI GSC turut pun meluncur dari Asep Rustam, Kepala Desa Cidahu yang menyebutkan sangat terbantu dengan kehadiran program yang diinisiasi oleh GSC tersebut dalam rangka peningkatan asupan gizi warga Cidahu. Berkat Pos PERGIZI, gizi buruk dan gizi kurang kini enggan bertandang ke Cidahu. (fx/gsc)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY